Tambun, seperti daerah lain di Bekasi adalah wilayah yang sangat ruwet dan macet. Tahun 1997, saat pertama kali pindah ke daerah ini kemacetan sudah terjadi. Namun dahulu bisa dimaklum karena kondisi jalan saat itu masih belum layak. Jalan berlubang di sana-sini. Bila musim hujan datang, jalan itu berubah menjadi kubangan kerbau. Tak sedikit motor yang terperosok di dalamnya. Namun bila musim kemarau, jalan itu menjadi penghasil debu terbesar. Sangat menyesakkan dada dan memerihkan mata.
Tapi saat ini, dengan kondisi jalan yang lebih bagus karena sebagian jalan sudah dibeton, kemacetan masih saja terjadi. Bahkan sangat parah. Ternyata kemacetan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang bukan disebabkan oleh kondisi jalan, tetapi oleh si pemakai jalan sendiri terutama oleh angkot-angkot yang menguasai jalan di Tambun. Boleh dibilang, angkotlah penguasa jalan di Tambun dan sekitarnya.
Supir angkot itu seenaknya saja menjalankan kendaraannya. Berhenti seenaknya dan tiba-tiba. Ngetem berlama-lama. Aku sendiri pernah hampir menabrak angkot gara-gara angkot yang ada di depanku tiba-tiba saja berhenti. Namun bila dikomplain, lebih galak dia.
Berbagi jalan dengan angkot di Tambun memang butuh kesabaran ekstra. Kepala dan hati harus tetap dingin. Misuh-misuh boleh saja. Pencet klakson kenceng-kenceng monggo wae, tetapi jangan sampai beradu otot. Nggak level - kata Catherin Wilson.
Intinya bila jalan terhalang, cari jalan lain atau pencet klakson kenceng-kenceng. Bersitegang? Kalah jumlah dan kalah emosi. Karena mereka sudah emosian sepanjang hari.
Tetapi sungguhpun begitu, aku senang tinggal di Tambun. Bukannya tidak ingin pindah dari sana, tetapi belum punya duit buat beli rumah yang baru di tempat lain.
Tambun...I Love You.....saiki
DPR-ku yang baru (2014 - 2019)
11 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar